Cerpen

Pengajian Premium

Berbuka dengan Makanan Orang Haji

Langit Watugugur di Bulan Ramadan yang cerah berhias dengan semburat jingga di ufuk Barat. Lantunan tilawah qari’-qari’ ternama berebut ruang di cakrawala: Suara Syaikh Mishari Rashid bergema dengan lembut di arah Barat; Suara Thaha Husein kecil yang terdengar imut mengalun di arah Timur; sementara arah Utara dikuasai suara tinggi Muammar Z.A. yang melegenda.  Berbeda dengan daerah lain yang langitnya didaulat suara rekaman, di sebelah Selatan, suara Kiai Duladi sayup-sayup menghegemoni ruang. Suara kyai sepuh ini menyimpan wibawa dan daya tarik. Tak heran jika di setiap petang warga Watugugur dan sekitarnya berbondong-bondong pergi ke Masjid Baitul Qahwah untuk mendapat siraman rohani dari tokoh kharismatik ini.

Pengajian Kiai Dulhadi berakhir seiring masuknya waktu Salat Magrib. Diiringi suara azan Kang Menir, jama’ah menyantap takjil spesial yang dibawa Dul Ropik dan Bahar dari rumah Kiai Duladi. Jika biasanya jama’ah berbuka dengan kue cucur, kue lapis, arem-arem, wajik, ondol-ondol, dan jajanan pasar lain, maka kali ini mereka menyantap kurma impor “Made in Saudi Arabia” dan minuman kemasan yang merknya susah dieja oleh warga Watugugur. Tak sampai di situ, selepas Salat Magrib berjamaah, jamaah disuguhi nasi briyani yang di antar pemuda-pemuda bertampang Timur-Tengah menggunakan mobil. Konon, makanan ini diantar dari ibu kota kabupaten. Begitu informasi yang terdengar dari jama’ah ibu-ibu di seberang satir.

Kang Ojan yang makan senampan dengan Kiai Duladi tak kuat menahan rasa penasarannya yang sejak tadi bergejolak. Ia ingin sekali bertanya, namun seakan ada sesuatu yang menghalanginya. 

“Dari mana Kiai Duladi mendapat makanan-makanan ini?”; “Apakah Kiai Duladi sedang cairan?”; “Apakah ini pemberian dari syaikh dari Arab yang kebetulan kenal dengan Kiai Duladi?” Demikian kiranya pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak petani wortel itu. 

Selesai makan, Kang Ojan akhirnya tak kuat lagi menahan rasa penasarannya. Ia yang sudah berhenti makan sebelum teman senampannya selesai makan, akhirnya berani mengutarakan rasa penasarannya.

Punten Kiai, Kiai habis cairan atau dapat sumbangan dari mana? Kok, kami-kami yang biasa makan tempe-tahu diajak makan makanan orang haji begini?” Tanya Kang Ojan polos.

“Nah iya, Inyong juga penasaran!” Sahut Lik Slamet yang tampaknya sejak tadi memendam rasa yang sama dengan Kang Ojan. 

“Sudah saya duga banyak yang penasaran mengapa kita bisa makan seistimewa ini. Baiklah saya akan beritahu mengapa makanan-makanan ini bisa sampai di sini.” Jawab Kiai Duladi sembari mengeluarkan bungkusan plastik. Di dalamnya ada papir, menyan, tembakau, dan tetek bengek rokok lintingan lain. Sembari meracik rokok, ia juga seakan mengumpulkan bahan untuk diceritakan kepada Lik Slamet dan Kang Ojan. Tanpa dikomando, jama’ah lain yang juga telah selesai makan ikut merapat, termasuk dua santri Kiai Duladi, Dul Ropik dan Bahar. 

###

Matahari sudah sepenggalah kala Bahar bertamu ke rumah tokoh panutannya, Kiai Duladi. Ia dipersilakan Bu Nyai Mahmudah untuk duduk dan menunggu.  

“Tunggu sebentar, Har, Bapak masih waqingahan. Memang ada apa, Har?” Tutur Bu Nyai diakhiri pertanyaan. 

“Biasa Bu Nyai, kami akan berdiskusi. Pak Kiai minta dijelaskan apa itu Crypto.” Jawab Bahar. 

“Bukannya Ripto itu guru SD yang rumahnya deket pasar itu, yah?” Bu Nyai Mahmudah kembali bertanya disertai rasa heran.

“Kalau itu Pak Suripto, Bu. Guru Penjaskes saya sewaktu sekolah dasar dulu.” Jawab Bahar sambil menahan tawa. Bahar merasa tidak etis jika ia menertawakan ketidaktahuan orang yang lebih tua, apalagi yang di depannya sekarang adalah Bu Nyai Mahmudah, istri orang yang telah mengajarinya ilmu agama sejak dari alif-ba-ta

Benar saja, tak lama kemudian Kiai Duladi keluar dari kamar dengan membawa setumpuk kitab. Melihat itu, Bu Nyai pamit melanjutkan pekerjaannya di dapur.

“Ya sudah. Saya pamit ke belakang dulu, Har. Selamat berdiskusi!”

Kiai Duladi pun mulai berdiskusi dengan Bahar mengenai Crypto.

###

Sudarjo Abu Syaif

Sementara itu, di salah satu kamar rumah Kiai Duladi, si bungsu Nawwal sedang asyik memainkan ponsel pintarnya. Hari ini sekolahnya libur sehingga ia memilih hanya rebahan sambil memainkan ponselnya. Ketika sedang scrolling di Twitter, tiba-tiba ada panggilan WhatsApp dari nomor yang tak dikenal masuk. Nawwal langsung mengangkat panggilan tersebut,

“Assalamu’alaikum. Hallo. Sinten nggih?Tanya Nawwal dengan sopan.

“Wa’alaikumsalam, Syaikh ‘Abdul Hadi” Jawab si penelepon.

Dari cara memanggil Kiai Duladi, Nawal paham bahwa lawan bicaranya bukan warga Watugugur. Lawan bicara Nawwal, yang sepertinya seorang lelaki, memanggil Kiai Duladi dengan nama lengkapnya, bahkan disertai gelar “syaikh.” Di luar keheranan ini, Nawwal sebenarnya sudah terbiasa jika ada panggilan masuk ke ponselnya dari orang tak dikenal dan panggilan tersebut ditujukan untuk bapaknya. Kiai Duladi memang selalu memberi nomor ponsel anak bungsunya itu ketika ditanya  mengenai nomor telepon yang bisa dihubungi. Singkatnya, Nawwal seakan sudah menjadi humas Kiai Duladi.

Dengan mengenakan kerudung paris yang seadanya, Nawwal buru-buru keluar kamar dan mendekati bapaknya yang tengah asyik berdiskusi dengan Bahar. Nawwal memberikan ponselnya kepada Kiai Duladi. Kiai sepuh itu sudah mafhum mengapa putri bungsunya itu memberikan ponsel pintarnya.

“Assalamu’alaikum. Hallo. Sinten nggih? Ada yang bisa dibantu?” Sapa Kiai Duladi dengan ramah.

Berikutnya, terjadi percakapan singkat antara Kiai Duladi dan si penelepon. Setelah panggilan berakhir, Kiai Duladi kembali berdiskusi dengan Bahar. Ia tampaknya begitu KEPO mengenai Crypto yang sedang marak diperbincangkan. Sebagai kiai rujukan umat, meski hanya umat Desa Watugugur, ia merasa harus tahu pelbagai ihwal mutakhir yang berpotensi menimbulkan permasalahan di kalangan masyarakat.  

###

Kiai Duladi baru saja pulang dari masjid. Ketika akan membuka pintu rumah, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Seorang berperawakan pendek dan bergamis putih keluar dari mobil. Ia diiringi dua pemuda, yang seorang membawa dua dus besar kurma dan yang lain membawa dua kerat minuman dengan merk yang tampaknya sulit dieja sebagian besar warga Watugugur, termasuk Kiai Duladi sendiri. Lelaki bergamis itu menghampiri Kiai Duladi. Ia mengucapkan salam sebelum memeluk Kiai Duladi dan melakukan cipika-cipiki.

“Apakah benar antum Syaikh ‘Abdul Hadi?” Tanya lelaki itu dengan sopan.

Benar sekali, Tuan. Tetapi hanya ‘Abdul Hadi saja, tanpa Syaikh. Mari masuk. Tidak elok mengobrol di depan rumah begini” Jawab Kiai Duladi.

Mereka pun masuk ke rumah Kiai Duladi. 

“Jadi, apa yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanya Kiai Duladi membuka obrolan.

“Sebelumnya, Ana ingin memperkenalkan diri dulu. Ana Sudarjo Abu Syaif. Ana berasal Cilacap, tetapi, Alhamdulillah, lama muqim di Saudi.”

“Masyaallah! Rika wong Cilacap?!  Cilacape mendi? Wonge dewek jebule!” Jawab Kiai Duladi antusias. Kiai Duladi  sering pergi ke Cilacap untuk bersilaturahmi dengan teman-teman sepondok dulu. Ia kenal betul pembagian wilayah di kabupaten yang terletak di Selatan Jawa Tengah itu.

Ana dari Kroya” Jawab Sudarjo singkat. Ia tampak tak tertarik memperbincangkan asal usulnya.

“Kembali ke hajat ana datang ke Antum, Syaikh. Ana E.O. dari acara bertajuk “Pengajian Premium.” Pada edisi tahun ini, Kami mengadakan pengajian premium di kawasan Pegongsoran. Qadarullah, ustaz yang sudah menyanggupi untuk mengisi pengajian ‘udzur. Ane berharap Antum berkenan untuk menggantikan ustaz yang berhalangan itu.” Tutur Joko to the point.

Mengko disit. Kajian Premium itu apa? Apa kajian tentang kekurangan dan kelebihan bengsin Premium dibandingkan bengsin Pertalit ataupun Pertamak?” Tanya Kiai Duladi polos. Kebetulan isu bahan bakar sedang hangat pula sehingga pikirannya sampai ke topik tersebut.

Ketiga tamu Kiai Duladi terperanjat. Dalam benak, mereka ingin tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan kiai kampung yang satu ini. Namun mereka tertahan oleh rasa takzim mereka kepada Kiai Duladi yang mereka rasakan sejak awal berjumpa tadi. Jadilah mereka menahan tawa sebisa mungkin.

“Jadi seperti ini Kiai. Jika pengajian reguler, ‘afwan, pengajian umum, pengajian bisa diikuti oleh semua orang tanpa terkecuali. Pengajian model seperti itu kurang efektif bagi jama’ahnya. Jadi Ana mengadakan “Pengajian Premium” di mana acara hanya diikuti oleh tidak lebih dari dua puluh orang. Kajian intensif ini akan dilaksanakan selama seminggu di daerah wisata Pegongsoran yang sejuk. Pengajian akan dilaksanakan di vila mewah sehingga peserta pengajian bisa dengan nyaman dan fokus mengikuti pengajian. Pengajian ini akan diikuti oleh pejabat, pengusaha, dan artis. Menurut informasi terbaru, Lesty Juara akan ikut bergabung. Antum tau Lesti Juara, kan, Syaikh?” Tutur Sudarjo panjang lebar.

“Saya baru dengar pengajian seperti ini. Mirip pesantren kilat tapi tinggalnya di vila. Bagaimana jika pengajian bengsin itu dipindah ke masjid kampung sini saja, Masjid Baitul Qahwah. Selain lebih murah, pengajian ini juga bisa menjadi ittiba’ kita kepada Kanjeng Nabi di mana beliau melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadan.” Tawar Kiai Duladi.

“Masyaallah…” Jawab Sudarjo singkat. Ekspresinya datar menunjukkan rasa kecewa.

“Sebelumnya Saya ucapkan maturnuwun atas tawarannya. Tapi saya punya jama’ah yang tidak bisa ditinggalkan. Jika sampean mau memindahkan pengajian ke Masjid Baitul Qahwah, Saya bersedia. Nanti akan kami sediakan penginapan ala kadarnya.” Jelas Kiai Duladi

Tanpa dibarengi sepatah katapun, Sudarjo menyodorkan map kuning kepada Kiai Duladi. Dengan sebuah isyarat, ia mempersilakan Kiai Duladi membuka map tersebut. 

Kiai Duladi membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah daftar yang berjudul “Daftar Bisyarah Ustaz Pengisi Pengajian.” Di bawahnya terdapat rincian  tunjangan yang akan didapat Kiai Duladi jika ia mengiyakan ajakan ini. Kiai Duladi hanya melihat sekilas bagian dalam map dan kemudian menngembalikannya kepada Joko.

“Mohon maaf, tetapi Saya tidak bisa mengiyakan tawaran ini.” Tutur Kiai Duladi berhati-hati. Ia tidak ingin menyakiti perasaan tamunya siang itu.

“Jika Syaikh tidak cocok dengan makanan berbuka di sana nanti, Ana bisa pesankan Antum Mc’Donald, KFC, Hanamasa, Bebek Haji Slamet atau apapun yang Syaikh inginkan,” Sudarjo masih gigih menawar.

“Donald Bebek? Maksud Sampean bebek goreng? Saya tidak suka bebek.” Jawab Kiai Duladi sekenanya. Ia tidak memahami nama-nama yang disebutkan Sudarjo tadi.

Ketiga tamu Kiai Duladi kembali menahan tawa. Mereka kali ini lebih berhasil menahan tawa daripada  saat Kiai Duladi menghubungkan Pengajian Premium dengan macam-macam bahan bakar. 

“Begini saja, Syaikh. Saya beri waktu Antum sehari untuk berpikir dahulu. Tidak baik memutuskan sesuatu secara terburu-buru.” Tutur Sudarjo menetralisasi keadaan. 

“Oh ya Syaikh. Ini sedikit hadiah dari Ana untuk Syaikh dan jama’ah.” Ucap Joko sambil menunjuk dua kerat minuman dan dua kardus kurma. Semoga Antum dan jama’ah suka. 

Setelah itu, ketiga tamu Kiai Duladi berpamitan. Mereka pergi meninggalkan tawaran dan pesimisme yang lekat.

###

Qashir dan Muta’adi

 “Punten, Kiai. Kula izin menyela. Kalau boleh tahu di dalam map yang si Sudarjo sodorkan ada keterangan nominal bayaran atau tidak?” Tanya Lik Slamet selepas Kiai Duladi menceritakan asal-usul kurma dan nasi briyani yang jama’ah makan tadi. Ia tampak malu menanyakannya, namun rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya.

Kiai Duladi tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu menghisap rokok kemudian mengepulkan asapnya. Dari raut mukanya, ia terlihat sedang mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan sensitif Lik Slamet.

“Cukup untuk membayar tagihan listrik warga satu RW kita dalam sebulan ” Jawab Kiai Duladi singkat.

“Wah, Itu sih ngode Gajah namanya. Cukup untuk kawin lagi. Hehehe..” cletuk Kang Ojan. 

 “Baca al-Fatihah saja Koen masih blepotan. Sok-sokan ingin jadi ustaz dengan bayaran mahal,” Olok Lik Slamet disambut gelak tawa Jama’ah yang hadir di “pengajian tambahan” petang itu.

“Kalau Kiai mulang pengajian pertalit itu, lantas siapa yang akan mulang di pengajian sebelum berbuka dan bakda Subuh?” Tanya Wartam yang sejak tadi diam.

“Memang siapa yang akan mengiyakan?” Kiai Duladi balik bertanya.

“Kan siapa tahu. Saya sih rumangsa tidak bisa ngamplopi Kiai selama pengajian Ramadan ini.” Pasrah Wartam. 

Kiai Duladi hanya terkekeh. Ia lantas menghidupkan kembali rokok lintingannya yang apinya mati. Kiai Duladi terdiam sejenak sambil menatap langit-langit masjid, seakan mencari bahan untuk melanjutkan obrolan. 

“Jadi seperti ini. Ada Kaidah Pekih yang berbunyi ‘al-Muta’addi afdhalu minal Qashir.’ Maksudnya, amal ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh selain pelaku amal lebih utama daripada amal ibadah yang dampaknya hanya dirasakan oleh pelaku. Pada tawaran yang saya dapat tadi siang, memang benar ketika saya mengisi pengajian itu akan memberi manfaat kepada dua puluh peserta, namun di pengajian rutin kita, jumlah jama’ah jauh lebih banyak daripada jumlah pengajian di Pegongsoran. Jadi, pengajian di Baitul Qahwah ini lebih utama. Sepertinya saya sudah pernah membahasnya dulu ketika Saya diajak jadi instruktur umrah di Bulan Ramadan.” Urai Kiai Duladi Serius.

“Kami juga bingung jika Kiai tindakan. Tak ada satupun yang sanggup menggantikan Kiai” Tutur Kang Menir yang juga ikut nimbrung.

“Kalaupun ada, pasti rasanya berbeda” Tutur Bahar menambahkan.

“Dan sebenarnya ada satu alasan lagi.” Sahut Kiai Duladi dengan nada serius. Ekspresi mukanya seakan sedang mengenang sesuatu. Suasana mendadak hening. Sayup-sayup terdengar petasan yang dinyalakan anak-anak kecil yang sedang menunggu azan Isya.

“Pesan bapak ketika akan meninggal adalah ia menitipkan jama’ah Masjid Baitul Qahwah. Beliau berpesan kepada saya untuk merawat jama’ah, terutama saat Bulan Ramadan.” Tutur Kiai Duladi dengan khidmat. Rupanya ia sedang mengenang mendiang bapaknya, Kiai Dolah.

“Memang kenapa dengan jama’ah Masjid Baitul Qahwah saat Bulan Ramadan?” Heran Kang Ojan.

“Kata bapak, banyak jama’ah yang datang ke masjid hanya ketika Bulan Ramadan. Ketika jama’ah “musiman” ini datang, seyogyanya mereka dirawat sebaik mungkin. Harapannya adalah mereka betah di masjid sehingga mereka tetap pergi ke masjid meski sudah memasuki bulan Syawal dan bulan-bulan setelahnya. Alasan ini juga yang membuat saya menolak tawaran tadi pagi.”

Kang Ojan yang merasa sebagai “jama’ah musiman” hanya bisa tersenyum kecut. Ia berharap azan Isya secepatnya berkumandang.

*Cerita pendek ini adalah bahan presentasi karya Rifqi Iman Salafi pada mata kuliah Fikih Dakwah K.H. Ali Mustafa Ya’qub, 8 April 2022

Tagged ,

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *