Sekuntum Rindu Untuk Kampung

Kampung ku…..

Aku rindu padamu

skarang, ku jauh dari mu

merantau, mencari secercah ilmu demi cintaku pada mu

Kampung ku, apa kabar mu?

Apa kau masih sama seperti saat ku beranjak dari timangan mu?

Atau sama sekali berubah dengan yang kau yang dulu

Kampung ku……

Aku tak tau pasti, berapa hari aku telah meninggalkan mu

Aku tak tau, apa yang bisa ku persembahkan ketika kita bersua kelak.

 

Yang ku tau, rasa rindu yang menagnak sungai sepanjang waktu!

yang tlah menggurita hingga sela-sela jari.

bahkan menerobos kolong mimpi kala dini hari.

 

Kau, tyang berbaur mesra dengan kesahajaan

bersubstansi 1001 arti kesubjetifitasan,

bersolek dengan sifat keibu-ibu an.

 

Masihkah kau mengingat ku?

atau kau telah lama lupa?

 

Walau begini, aku berasal dari tanah mu yang gembur

pemenang sayembara panjang itu

 

Jangan kau berbalik tanya mengenai itu..

karena kau tak bernah sedepa pun tergeser dari fokus ingatan ku

meski seribu kota milenium dengan kemolekan nya berusaha keras melupakan ku dari kisah kasih mu.

 

Kampung ku yang tetap lugu…

Ku hembuskan setipa peartikel rindu kala mengingat mu

Di saat sendiri ku coba berbicara dengan Bulan, sayang hanya hening yang ku dapat.

Kadang ku coba mengadu pada Mentari yang congkak, ia hanya membalas seulas senyum yang menyilaukan.

 

Rinduku bagai bongkahan besi yang terbakar api sembilu

Yang entah kapan akan reda

Mungkin, saat pertemuan dengan kampung ku yang lugu

semua sirna tergantikan secercah senyum pententram kalbu.

 

2 Juli 2015/15 Romadlon 1436 H, Masjid Jami’ An-Nur.

 

Facebook Comments

Leave a Reply