Category: Puisi

Civil War

Nothing Believed A wild desire, having other’s Being betrayer is heavy crime I realize it well Like the summer sun Am I blind because of this affection? Trying to see but here is fucking dark Under influence of something more intoxicating than any wine Love or desire that makes me mad? Asking to my self

Sajak Untuk Penderes

Pagi tiba, hujan pun tiba Petir hampir saja menyambar Naik turun hampir tiada henti Hanya untuk mengais tetes demi tetes nira Mencari sesuap nasi untuk keluarga Pijakan licin siap mengancam nyawa Sedikit saja kaki tergelincir Denyut nadi taruhannya Satu persatu pohon kau naiki, kau panjat Tak peduli angin perkasa yang setiap saat bisa mengehempaskan Tak

Selamat Hari Santri

Selamat Hari Santri,,, Untuk semua santri, Yang mengambil jemuranku Yang mengambil sendalku Yang mendobrak lemariku Yang mencuri hatiku Selamat Hari Santri,,, Santri yang tertidur pulas, Di atas lantai tak beralas. Menempati kamar petakan, Berpopulasi puluhan. Tapi mereka lebih nyenyak, Dari mereka yang tidur di kasur empuk, Tetapi tetap terjaga karena mengkhatirkan nilai saham ambruk Menenpati

Mentari Hati

Merona di bali ktirai Indah berbalut rahasia Seanggun gulungan ombak di pantai Yang mewangi bak Cendana menyergap Raflesia Akankah ku sanggup menggapai? Takkan mudah seperti dunia yang damai Untuknya disana ku berandai Langkahku terhenti saat menbrak tirai Hari terus berlalu jiwaku terpaku Andai kau yang membuatku terpaku tau… Sandaran tak tau siapa yang bersandar padanya..

Sajak Si Penyendiri

Hujan…. Hujan….. oh Hujan….. Akhirnya engkau datang juga… Aku rasa engkau datang tuk menemaniku Mengobati jiwa yang remuk redam berjuta pilu Menyiram dahaga kalbu yang kian mengharu biru Pohon…… Mengapa kau begitu congkak kepadaku? Berdiri mematung di sana? Bahkan seulas senyum pun seakan sukar kau beri Kau memilih merelakan diri jadi bulan-bulanan hujan Kau lebih

You :)

Time stopped Rain gagged Air stunned When you passed over When our look gather When you in a dream bother You don’t care about around But all of attention stolen You just face in front But all of affection  given You’re Master piece God was smiling when created You’re epicentrumme The great earth quick in

Kau Milikku

Kau Milikku Kini aku berada di halusinasi tingkat tertinggi Hangatnya sinar mentari tercuri senyum lugu itu Obrolan semenarik apapun tersaingi bunyi namamu Ingatanku terpause pada adegan saat pandangan kita bertemu Rajai diriku wahai putri imajinerku! Untuk apa kau telah melucuti sel demi sel ingatanku Malah kau berlari entah kemana… lorong hitam ke jagat antah berantah

Terlalu Bingung Untuk Memikirkan Judul

Aku bingung…. mau kemana kan aku bawa seonggok daging, beberapa batang tulang dan seikat rambut ini… Aku berada di persimpangan… eh tunggu ini sebuah pertigaan, bukan bukan! ini perempatan, maksudku ohhh tidak.., terlalu banyak persimpangan di depan mataku. Bekalku sedikit, aku ragu, apakah aku sanggup menempuh perjalanan panjang ini, berliku, penuh kerikil tajam, dan sarat

Dulu dan Sekarang

Kau… Yang dulu senyumnya begitu manis ku pandang Kini malh membuatku terisak meradang Kau… Yang dulu menangis karenaku kini giliranmu membuatku beku Kau… Yang dulu ada kala duka merajalela Kini kau hampir membuatku gila Kau… Yang dulu selalu menjadi inspirasi saat aku bersikap bertindak-tanduk Kini membuatku seolah-oleh terkutuk, tergopoh-gopoh, terseok-seok bagai preman jalanan yang sedak