Category: Fiksi

Adab di Ujung Senja

Senja, dengarkanlah Aku Aku yang mengiba di halamanmu Dianaktirikan nasib tanpa alasan Ditinggal pergi bersama kenangaan, Kenangan yang menggenang, jernih bukan main Memantulkan kisah bahagia, namun keruh saat coba kugapai Senja, dengarkanlah Aku Mengapa kisahku berakhir di altar suci Tempat diaku dan dianya diaku mengikat janji suci di atas jiwa yang mati, ditinggal pergi, digerogoti

Terimakasih dan Sampai Jumpa

Terimakasih, pernah menjadi pelangi setelah hari-hariku yang penuh petir dan hujan Terimakasih, pernah menjadi mentari setelah malamku yag gelap, lama, dan dingin Terimakasih, telah menjadi refrain indah setelah intro sember yang jauh dari estetika Terimakasih, atas senyum di senja kala setelah siang sarat hiruk-pikuk, kegaduhan, dan debu jalanan.   Kini,   Gelang di antara kita

Putri Salju

Kaulah Putri Salju Tindak-tandukmu membekukan udara Hingga sesak nafasku, pudar pandanganku, hampir jengah bernafas, ingin segera berkelana ke Nirwana. Diam adalah istanamu Yang memaksaku menjadi abdi dalemnya Mengabdi seumur hidup meski tahu takkan pernah diangkat jadi raja Bulu matamu bagai “ndamar kanginen” Menari kala Kau berkedip Elok nan luwes gerakanmya Menghipnotis setiap pasang mata yang

Civil War

Nothing Believed A wild desire, having other’s Being betrayer is heavy crime I realize it well Like the summer sun Am I blind because of this affection? Trying to see but here is fucking dark Under influence of something more intoxicating than any wine Love or desire that makes me mad? Asking to my self

Miss Understanding

  Lalu lintas lancar pagi itu, kendaraan beroda empat dan dua rukun berbagi jalan, meski kadang suara klakson panjang membahana mengganggu indra pendengaran. Lisma masih berdiri di pinggir jalan menantikan angkot, moda transportasi favoritnya. Bukan tanpa alasan kenapa siswa SMA kelas akhir ini memfavoritkan angkutan yang satu ini, selain jam operasinya yang mendukung kegiatannya sebagai

Sajak Untuk Penderes

Pagi tiba, hujan pun tiba Petir hampir saja menyambar Naik turun hampir tiada henti Hanya untuk mengais tetes demi tetes nira Mencari sesuap nasi untuk keluarga Pijakan licin siap mengancam nyawa Sedikit saja kaki tergelincir Denyut nadi taruhannya Satu persatu pohon kau naiki, kau panjat Tak peduli angin perkasa yang setiap saat bisa mengehempaskan Tak

Selamat Hari Santri

Selamat Hari Santri,,, Untuk semua santri, Yang mengambil jemuranku Yang mengambil sendalku Yang mendobrak lemariku Yang mencuri hatiku Selamat Hari Santri,,, Santri yang tertidur pulas, Di atas lantai tak beralas. Menempati kamar petakan, Berpopulasi puluhan. Tapi mereka lebih nyenyak, Dari mereka yang tidur di kasur empuk, Tetapi tetap terjaga karena mengkhatirkan nilai saham ambruk Menenpati

Mentari Hati

Merona di bali ktirai Indah berbalut rahasia Seanggun gulungan ombak di pantai Yang mewangi bak Cendana menyergap Raflesia Akankah ku sanggup menggapai? Takkan mudah seperti dunia yang damai Untuknya disana ku berandai Langkahku terhenti saat menbrak tirai Hari terus berlalu jiwaku terpaku Andai kau yang membuatku terpaku tau… Sandaran tak tau siapa yang bersandar padanya..

Sajak Si Penyendiri

Hujan…. Hujan….. oh Hujan….. Akhirnya engkau datang juga… Aku rasa engkau datang tuk menemaniku Mengobati jiwa yang remuk redam berjuta pilu Menyiram dahaga kalbu yang kian mengharu biru Pohon…… Mengapa kau begitu congkak kepadaku? Berdiri mematung di sana? Bahkan seulas senyum pun seakan sukar kau beri Kau memilih merelakan diri jadi bulan-bulanan hujan Kau lebih