Mengapa Saya Ber-PMII

Karena penulis tidak punya massa yang bisa dikerahkan untuk menyanyikan yel-yel bernuansa politis atau tidak punya cukup dana untuk memasang banner yang bertujuan mempromosikan pemikiran penulis, maka penulis memilih untuk sedikit berdialektika mengapa penulis bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Pertama karena alasan ideologis. Penulis memilih PMII karena organisasi dengan jelas mencantumkan ideologi Ahlus sunnah wal Jama’ah sebagai landasannya. Bukan bermaksud rasis atau eksklusif, tetapi bukannya Islam memang ditakdirkan menjadi agama yang penuh keberagaman? Berbeda boleh, asalkan memiliki prinsip toleransi dengan batas yang jelas. Itu yang pasti. PMII juga sering kali didakwa condong ke salah satu golongan. Namun, jika dilihat kejadian-kejadian dewasa ini, PMII terbilang netral. PMII tidak ikut campur ketika prahara 212 bergulir maupun panasnya bursa capres 2019. Jika ada kader yang menjadi pendukung salah satu calon itu semata  hanya perwujudan dari hak warga  negara untuk dipilih maupun memilih.

Kedua, sepanjang sepak terangnya, PMII berperan besar dalam catatan sejarah  RI dari masa ke masa. Saat Orla kalap, PMII bersama organisasi ekstra mahasiswa lain berinisiasi membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa), bahkan Sahabat Zamrani yang berasal dari PMII Cabang Ciputat maju sebagai presidium satunya. Pada masa penggulingan Orba yang penuh dengan praktik KKN, PMII menjadi Penggerak masa dalam aksi di gedung DPR. Menurut sumber yang tak mau disebutkan namanya, slogan “Ganyang Suharto”  adalah hasil pemikiran massa PMII Ciputat.
Tidak cukup sampai di situ, PMII, sejak kelahirannya, bersumpah setia menjadikan Pancasila sebagai dasar pergerakannya. Selain sebagi organisasi mahasiswa yang agamis moderat, kader-kader PMII juga dibentuk sebagai kader yang nasionalis.

Ketiga, bergabungnya penulis dengan PMII merupakan usaha untuk memerangi radikalisme di kampus yang belakangan ini merajalela. Keislaman PMII yang moderat dan mengindonesia sangat cocok untuk menumbuhkan jiwa mahasiswa yang memiliki rasa toleransi dan tidak menanggalkan keislamannya.

Itu saja pemaparan penulis mengapa penulis memilih untuk ber-PMII. Semoga mencerahkan dan menambah wawasan juga.

Wallahulul Muwafieq Illa AqwamithArieq
Wasslamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dzikir, Fikir, Amal Saleh
Salam Pergerakan
Tangan Terkepal dan Maju ke Muka!!
#KitaAdalahTerang

Facebook Comments

Leave a Reply