Month: September 2018

Mengapa Saya Ber-PMII

Karena penulis tidak punya massa yang bisa dikerahkan untuk menyanyikan yel-yel bernuansa politis atau tidak punya cukup dana untuk memasang banner yang bertujuan mempromosikan pemikiran penulis, maka penulis memilih untuk sedikit berdialektika mengapa penulis bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pertama karena alasan ideologis. Penulis memilih PMII karena organisasi dengan jelas mencantumkan ideologi Ahlus

Adab di Ujung Senja

Senja, dengarkanlah Aku Aku yang mengiba di halamanmu Dianaktirikan nasib tanpa alasan Ditinggal pergi bersama kenangaan, Kenangan yang menggenang, jernih bukan main Memantulkan kisah bahagia, namun keruh saat coba kugapai Senja, dengarkanlah Aku Mengapa kisahku berakhir di altar suci Tempat diaku dan dianya diaku mengikat janji suci di atas jiwa yang mati, ditinggal pergi, digerogoti

Terimakasih dan Sampai Jumpa

Terimakasih, pernah menjadi pelangi setelah hari-hariku yang penuh petir dan hujan Terimakasih, pernah menjadi mentari setelah malamku yag gelap, lama, dan dingin Terimakasih, telah menjadi refrain indah setelah intro sember yang jauh dari estetika Terimakasih, atas senyum di senja kala setelah siang sarat hiruk-pikuk, kegaduhan, dan debu jalanan.   Kini,   Gelang di antara kita