Antara Bumi (Kau), Manusia (Aku) dan Langit (Bedebah)

Bumi, puaskah kau merindu langit? 
Silahkan jika kau tak letih mencoba.. 
Coba kau cium langit itu dengan bibirmu yang bernama everest? 
Apakah kau bisa menyentuh pipi langit walau sekejap?
Coba kau peluk langit itu dengan tangan-tanganmu macam eiffel, burj khalifa atau menara Babel yang melegenda..
Apakah kau bisa memeluk erat tubuh langit yang berhias beribu berlian itu?

Puas kau mencoba? Puas kau berusaha? Puas kau berandai-andai?

Jujur saja, aku yang manusia membenci langit yang pernah menghujanimu dengan meteor, ia juga melenyapkan mimpiku.

Tapi kau sungguh tak diuntung, Bumi! 
Sudah ku hamparkan beribu kilometer jalan di atasmu, telah ku tanami pohon di hutan-hutanmu yang gundul.

Tapi apa balasanmu, Bumi? 
Kau tetap mencintai langit yang glamour, kau tetap memendam rindu pada langit yang angkuh….

Meski ia jauh, ia menjanjikanmu sesuatu yang utuh, tak seperti aku, manusia yang penuh peluh. Tak mampu bisa mengantarkanmu hingga jauh.

Persetan dengan rindumu, Bumi. Kau kan menemuinya di akhir riwayat dunia kelak. Kau kan puas bergumul dengannya. Menjadi satu dalam kebinasaan.

Kantor PMII KOMFAKA, 7 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*