Secuil Kisah 10 November 1945

Bersimbah peluh, air mata bahkan darah

Menatap murka Union Jack yang tak tau malu

menyeret kaki kiri yang tertembus pelor sang durjana

Mulut merapal takbir, serta satu kata :

Merdeka, merdeka dan merdeka!!!

Mata berpelipis sobek awas mengintai musik

tangan bersimbah darah, masih sigap menarik pelatuk senapan

Merah-Putih usang terikat kuat di kepala

saksi bisu perjuangan panjang penuh pengorbanan

 

Nyawa kau obral demi Negeri

Darah kau barter dengan kemerdekaan untuk  Ibu Pertiwi

Badanmu kau tak hiraukan demi menggapai sebuah angan…

memastikan senyum merdeka anak cucu di masa depan.

 

Tergopoh-gopoh lari menjauhi sumber ledakan

namun apa daya, tubuh yang telah lunglai menjadi korban empuk

ledakan dari granat milik empunya yang tak berperi kemanusiaan

 

Pandangan kabir, malaikat maut datang

darh segar keluar menghambur,

semangat patriot tak juga hilang,

jiwa kusuma tak lekas lekang,

meskipun ajal telah menjelang.

 

Sirna semua derita nestapa

ketika di depan mata Sang Firdaus telah menyambut,

tamu agungnya yang baru pulang dari perjalanan masghul melawan tirani

Tirani tak tau diri yang merampas hak kemerdekaan secara keji,

Bangsa Kaukosid rakus yang entah kapan berpuas diri

 

Merdeka!!!!!

 

{70 Tahun setelah perang “Jihad” 10 November berlalu, Pukul 00.30 WIB, Kamar Al-Azhar Bawah 3}

 

Facebook Comments

Leave a Reply